Oleh: M.Arif Romadoni | 23 Juli 2010

GURU JANGAN MAU MENGAJAR TANPA SK!

24 JUNI 2010

OLEH:CHAIROEL ANWAR

KabarIndonesia – Tanjungpinang, Guru dihimbau agar memperhatikan SK penempatan sebagai guru. Karena, berdasarkan SK itulah guru mengajar di sekolah.

“SK itu ibarat SIM, surat ijin mengajar. Kalau tak ada SK, jangan mau mengajar walaupun diminta kepala sekolah,” kata Kasi Profesi Guru Dinas Pendidikan Kepulauan Riau (Kepri), Mardiana, pada acara pelatihan guru mata pelajaran kimia SMA di Hotel Sampurna Jaya, kemarin.

Hal itu disampaikan Mardiana, lantaran dalam beberapa kasus, permasalahan SK ini bisa berakibat pidana. Terlebih, ketika guru akan mengusulkan DUPAK (daftar usulan penetapan angka kredit) menaikan pangkatnya.

“Jangan setelah mau naik pangkat, baru sibuk mencari SK mengajar. Ada kasus, beberapa PAK (penetapan angka kredit) palsu diakibatkan tanda tangan palsu dari kepala sekolah. Karena, ketika hendak mengurus pangkat, eh kepala sekolahnya sudah meninggal,” terang Mardiana.

Karena itu, agar tidak terjadi kasus serupa, guru diimbau untuk meminta SK kepada kepala sekolah sebelum mengajar.

“Kalau SK tak diberi, tak perlu mengajar. Kalau ditanya kenapa tak mengajar, jawab saja karena dikasih SK,” ujarnya.

Sementara, salah seorang guru SMA dari Kabupaten Lingga meyampaikan keluhannya untuk mengikuti sertifikasi. Pasalnya, guru lulusan sarjana teknik itu hampir setiap tahun bergantian mengajar kimia, fisika, matematika, dan juga geografi, atas permintaan kepala sekolah.

Sehingga, ketika ingin mengikuti sertifikasi, guru yang mengaku sudah bertugas selama lima tahun itu bingung dengan mata pelajaran yang diampu yang akan dimasukkan dalam portofolio.
“Saya lulusan teknik tapi oleh karena guru kurang, saya dioper ke mata pelajaran geografi selama setahun. Kemudian juga disuruh mengajar matematika, kimia dan fisika. Jadi, bagaimana saya mengurus sertifikasi?” ujar guru perempuan tersebut.

Menurut Mardiana, guru harus profesional dengan konsisten mengajar satu mata pelajaran saja. Sehingga, guru benarbenar bisa berkonsentrasi untuk meningkatkan mutu anak didik. Guru juga bisa menolak perintah kepala sekolah untuk mengajar mata pelajaran lainnya.

“Guru harus konsisten, pilih satu mata pelajaran yang ditekuni. Bila kepala sekolah keras, minta saja dipindahkan ke sekolah yang masih membutuhkan. Kan lucu, kalau dulu sewaktu kuliah tak memilih jurusan kimia karena tak mampu, tapi ketika jadi guru kok mampu?” tukas Mardiana. (*)

Ditulis ulang oleh: Muhammad Arif Romadoni
Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/  
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: