Oleh: M.Arif Romadoni | 23 November 2010

UN Tetap Penentu Kelulusan dan Pemetaan

Hasil dari Ujian Nasional (UN) masih menjadi perdebatan, baik digunakan sebagai penentu kelulusan atau pemetaan kualitas sekolah. Kementrian Pendidikan NUN Tetap Penentu Kelulusan dan Pemetaan Senin, 22 November 2010 12:14 Hasil dari Ujian Nasional (UN) masih menjadi perdebatan, baik digunakan sebagai penentu kelulusan atau pemetaan kualitas sekolah. Kementrian Pendidikan Nasional tetap akan menggelar UN dan mengambil kedua tujuan tersebut. Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (19/11/2010) di Jakarta.

Nuh mengatakan, selanjutnya UN akan dibuat tersegmentasi yaitu masing-masing untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah. “Dari UN sekolah dasar bisa untuk menentukan ke SMP, dari UN SMP bisa untuk menentukan ke SMA. Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa dari UN sekolah menengah atas tidak bisa menentukan ke perguruan tinggi negeri,” ucap Nuh. “Kita harus mengetahui falsafahnya, UN itu untuk mencari kemampuan minimal yang bisa dicapai siswa, sedangkan tes masuk ke perguruan tinggi negeri filosofinya mencari yang terbaik,” kata Nuh.

Dia melanjutkan, secara logika peserta didik yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) pasti lulus UN. “Tidak ada ceritanya lulus tes seleksi masuk PTN tetapi tidak lulus UN,” lanjut Nuh. Nuh menambahkan, PTN juga harus melihat ke bawah dan tidak memaksakan standar yang tinggi. Jika PTN dipaksa demikian, maka dari SD-SMA ke bawahnya juga harus tinggi, otomatis standar TK juga harus tinggi. “Masak di TK siswa sudah harus bisa baca, padahal seharusnya di TK itu kelompok bermain dan belajar,” tandas Nuh. asional tetap akan menggelar UN dan mengambil kedua tujuan tersebut.

Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (19/11/2010) di Jakarta. Nuh mengatakan, selanjutnya UN akan dibuat tersegmentasi yaitu masing-masing untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah. “Dari UN sekolah dasar bisa untuk menentukan ke SMP, dari UN SMP bisa untuk menentukan ke SMA. Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa dari UN sekolah menengah atas tidak bisa menentukan ke perguruan tinggi negeri,” ucap Nuh. “Kita harus mengetahui falsafahnya, UN itu untuk mencari kemampuan minimal yang bisa dicapai siswa, sedangkan tes masuk ke perguruan tinggi negeri filosofinya mencari yang terbaik,” kata Nuh. Dia melanjutkan, secara logika peserta didik yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) pasti lulus UN. “Tidak ada ceritanya lulus tes seleksi masuk PTN tetapi tidak lulus UN,” lanjut Nuh.

Nuh menambahkan, PTN juga harus melihat ke bawah dan tidak memaksakan standar yang tinggi. Jika PTN dipaksa demikian, maka dari SD-SMA ke bawahnya juga harus tinggi, otomatis standar TK juga harus tinggi. “Masak di TK siswa sudah harus bisa baca, padahal seharusnya di TK itu kelompok bermain dan belajar,” tandas Nuh. UN Tetap Penentu Kelulusan dan Pemetaan Senin, 22 November 2010 12:14 Hasil dari Ujian Nasional (UN) masih menjadi perdebatan, baik digunakan sebagai penentu kelulusan atau pemetaan kualitas sekolah. Kementrian Pendidikan Nasional tetap akan menggelar UN dan mengambil kedua tujuan tersebut.

Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (19/11/2010) di Jakarta. Nuh mengatakan, selanjutnya UN akan dibuat tersegmentasi yaitu masing-masing untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah. “Dari UN sekolah dasar bisa untuk menentukan ke SMP, dari UN SMP bisa untuk menentukan ke SMA. Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa dari UN sekolah menengah atas tidak bisa menentukan ke perguruan tinggi negeri,” ucap Nuh. “Kita harus mengetahui falsafahnya, UN itu untuk mencari kemampuan minimal yang bisa dicapai siswa, sedangkan tes masuk ke perguruan tinggi negeri filosofinya mencari yang terbaik,” kata Nuh. Dia melanjutkan, secara logika peserta didik yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) pasti lulus UN.

“Tidak ada ceritanya lulus tes seleksi masuk PTN tetapi tidak lulus UN,” lanjut Nuh. Nuh menambahkan, PTN juga harus melihat ke bawah dan tidak memaksakan standar yang tinggi. Jika PTN dipaksa demikian, maka dari SD-SMA ke bawahnya juga harus tinggi, otomatis standar TK juga harus tinggi. “Masak di TK siswa sudah harus bisa baca, padahal seharusnya di TK itu kelompok bermain dan belajar,” tandas Nuh.

22 november 2010

sumber : kemendiknas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: